Hello Friends…

Welcome to my blog.

Kita tidak pernah terlepas dari pemikiran, ide, dan pandangan tentang hidup ini. Hal2 tersebut menjadi bagian dari identitas diri yang selalu kita bawa dimanapun kita berada. Semua hal tersebut merefleksikan siapa diri kita dan menunjukkan eksistensi kita. Pemikiran merupakan kemampuan untuk mengabtraksikan suatu fenomena, tanpa pemikiran kita tidak akan memiliki persepsi. Ide adalah gagasan, rancangan yang tersusun dalam pemikiran, tanpa ide kita tidak akan memiliki karya cipta. Pandangan adalah konsep mendasar tentang diri dan dunianya yang menjadi panduan untuk meraih kehidupan yang bermakna, tanpa pandangan kita tidak memiliki prinsip.

Dalam blog ini saya akan membagikan beberapa pemikiran, ide, dan pandangan yang saya miliki. Please enjoy your visit. I would very glad to hear your comment..

Selamat membaca ^^

Phee

Iklan

Bunuh diri kian fenomenal karena “latah”

Indonesia baru-baru ini di gemparkan dengan berbagai kasus bunuh diri yang justru terjadi di tempat umum ataupun di tengah keramaian. Kasus ini banyak menyita perhatian masyarakat dari berbagai kalangan. Banyak pertanyaan yang kemudian muncul, banyak pula pernyataan terkait kasus ini dengan berbagai pandangan dari masyarakat. Berbagai spekulasi muncul seiring semakin maraknya fenomena bunuh diri di masyarakat.

Kasus bunuh diri, biasanya dilatar belakangi oleh permasalahan pribadi masing-masing korban. Peliknya masalah yang mereka hadapi membuat mereka mangambil “jalan pintas” dengan cara mengakhiri hidup mereka dengan harapan masalah mereka akan berakhir seiring dengan berakhirnya hidup mereka. Namun akhir-akhir ini timbul “tren” baru yang menjadi alasan bagi pelaku bunuh diri dalam mengakhiri hidupnya. Beragam hal yang menjadi alasan untuk mereka melakukan bunuh diri. Dalam sosiologi, bunuh diri menjadi perhatian khusus oleh Emille Durkheim. Dan dimasukkan menjadi salah satu teorinya. Menurut Durkheim bunuh diri dibagi menjadi:

  1. Bunuh diri egoistic, yaitu merupakan bunuh diri yang disebabkan karena seorang individu mempunyai masalah yang tidak dapat dia selesaikan sendiri, kemudian ia mencari perhatian pada orang-orang di sekelilingnya, mencari tempat untuk sharing namun ia tidak mendapatkan itu sehingga memutuskan untuk bunuh diri.
  2. Bunuh diri Alturistik, yaitu bunuh diri yang dilandasi oleh kecintaan seseorang terhadap grup atau kelompoknya sehingga ia mau berkorban apapun demi tercapainya tujuan kelompok tersebut, bahkan untuk berkorban nyawa sekalipun.
  3. Bunuh diri Anomik, yaitu bunuh diri yang disebabkan karena dalam masyarakat terjadi suatu kebingungan public dimana seseorang itu merasa tidak ada lagi pegangan dalam hidupnya karena kondisi masyarakat sedang berada pada kekosongan norma dan nilai.
  4. Bunuh diri Fatalistik, yaitu bunuh diri yang disebabkan karena seorang individu merasa kondisi dalam masyarakat tidak lagi memberikan ruang kepadanya untuk melakukan suatu perubahan terkait dengan nasib yang ia alami, sehingga ada perasaan putus asa dan suatu kepasrahan untuk melanjutkan hidup dan memilih bunuh diri saja.

Dari teori-teori diatas dapat kita gunakan untuk menganalisa berbagai kasus bunuh diri yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Seperti beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di beberapa mall di Jakarta maupun tempat-tempat umum yang lain.

Bunuh diri yang dilakukan oleh Lindasari, Warga Kemayoran, Jakarta Pusat, ditemukan pertama kali oleh penghuni Apartemen Istana Harmoni dengan kondisi mengenaskan di lapangan tenis, Selasa kemarin. Lindasari diduga lompat dari lantai 27. Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat masih menyelidiki penyebab peristiwa itu. Kasus serupa terjadi di West Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, 30 November silam. Seorang perempuan bernama Ice Juniar ditemukan bunuh diri. Saat itu, perempuan berusia 24 tahun itu tengah berjalan-jalan dengan orang tua dan tantenya. Tindakan nekat Ice, juga dipilih pula Reno Fadillan Hakim pada hari yang sama. Pria berusia 25 tahun itu melompat dari lantai lima ke lantai satu mal Senayan City Jakarta. Selang empat hari, Richard Zulkarnaen ditemukan tewas usai bunuh diri di Mangga Dua Square. Diduga, pria berusia 35 tahun itu melompat dari lantai enam gedung di wilayah Jakarta Utara tersebut. Lalu disusul Yani Setiani juga tewas setelah terjun dari lantai 11 Apartemen Gading River View City, Jakarta Utara, yang diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 11 apartemen di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, keluarganya di Desa Tanjungrejo, Pati, Jawa Tengah, membantah dugaan Setiani meninggal karena bunuh diri, Menurut mereka, Setiani terpeleset hingga terjatuh. Keluarga meminta polisi menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Alasan seperti himpitan ekonomi dan masalah hidup yang lain turut mewarnai dugaan terjadinya kasus bunuh diri itu. Entah ada kaitannya atau tidak bunuh diri yang saya sebutkan diatas terjadi dalam waktu yang dekat bahkan ada yang terjadi pada hari yang sama. Mereka seakan terpengaruh dengan jalan yang sudah ditempuh orang lain yang ingin segera terbebas dari masalah dengan cara mengakhiri hidupnya. Ini menjadi tren bunuh diri ”latah”. Ada juga percobaan bunuh diri yang penyebabnya tergolong unik, disebabkan karena ia ingin meniru tokoh super hero atau tokoh idolanya yang ia lihat di film. Cukup ironis bukan?! Tapi inilah yang terjadi pada orang sekitar kita. Jadi tetaplah jalankan ‘hablum minallah hablum min nannasy’. Agar kita senantiasa dalam lindungannya. Amiin….

Artis jadi politisi?? Why not…?!

Artis jadi politisi??? Kalau saya sih asik-asik aja alias sah-sah saja…. ya knapa gak? Mereka punya hak juga kok untuk itu. Yang jadi masalah, dan yang menjadi keraguan di masyarakat sekarang ini kan kaitannya sama kompetensi yang dimiliki si artis untuk terjun ke dunia politik. Bener-bener Mampu gak to? Atau orang banyak bilang hanya sekedar  aji mumpung  saja….? cobalah kita membiasakan diri untuk berfikir positif. Lagian tidak semua artis itu cita-cita utamanya memang pengen jadi artis, siapa tau dia juga pernah punya cita-cita jadi wali kota, atau bahkan menteri, atau mungkin malah jadi presiden??! Ya boleh-boleh saja to? Kalau memang dia sadar dan yakin dengan potensi yang dia miliki. Ya kembali pada bab kompetensi tadi. Kalau saya pribadi sih berfikir bahwa hal itu memberi warna tersendiri dalam dunia politik Negara kita. Dan fenomena semacam ini rasanya tidak hanya ada di Negara tercinta kita ini. Sebut saja aktor laga Hollywood Arnold Schwarzeneger yang saat ini menjadi Gubernur California. Selain itu Joseph Estrada yang menjadi Presiden Filipina. Ada juga Ronald Reagan yang menjadi Presiden Amerika di era ’80-an.
Sedangkan di Indonesia sendiri fenomena artis jadi politisi juga tengah ramai menjadi topik perbincangan. Namun hal ini tidak menyulutkan keinginan para pemain peran tersebut. Aktor kelahiran Jakarta 8 Oktober 1960, Rano Karno, menang di Pemilihan Kabupaten Tangerang, Tidak tanggung-tanggung, saat itu dia dicalonkan 15 partai mendukungnya dan memasangkan Rano Karno dengan Ismet Iskandar. Akhirnya, pasangan ini lolos dan menjadi pasangan Bupati dan Wakil Bupati Tangerang 2008-2013. Yusuf Macan Effendi atau biasa dikenal dengan Dede Yusuf juga tengah menjajal dunia tersebut, dan mendapat sambutan yang baik dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kemudian dipasangkan dengan Ahmad Heryawan untuk maju dalam Pilgub Jawa Barat.

Fenomena artis memimpin bangsa mendapat perhatian Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani. Dia menilai fenomena menggandeng artis dalam pilgub justru akan menguntungkan pasangan itu sendiri. Ya bisa dikatakan ini merupakan simbiosis mutualisme. Si artis bisa tetap eksist walaupun dengan menggeluti bidang lain. Dan tentunya partai politik juga dapat mengambil keuntungan dari ketenaran artis tersebut. Dia akan mendapat lebih banyak simpatisan dari penggemar artis tersebut, selain itu juga memudahkan dalam proses sosialisasi visi dan misi partai. Keuntungan lainnya, dengan keartisan yang dimiliki seseorang akan memudahkan pasangan tersebut dikenal masyarakat secara luas. Sehingga tidak memerlukan pasangan tersebutmengekspos diri secara berlebihan. Contohnya pasangan Rano Karno yang mendampingi Ismet, dengan status keartisan yang dimiliki Rano, menjadi kantong suara dalam pilgub hingga terpilih di Kabupaten Tangerang.

Selain artis yang tersebut di atas masih banyak lagi artis-artis yang kini merambah dunia politik. Misalnya saja Aji masaid dan Anjelina sondakh istrinya, eko patrio, deddy mizwar, Wulan Guritno dan masih banyak lagi.

Namun sering menjadi pertanyaan banyak kalangan di masyarakat apakah keahlian seorang artis dapat menyelesaikan permasalah yang ada di bangsa dan masyarakat secara tuntas? Apakah cukup dengan modal ketenaran semua masalah akan selesai? Maka dari itu diharapkan agar para artis yang terjun ke dunia politik tidak hanya menjajal saja, tapi berani bertanggung jawab dengan keputusan yang diambilnya. Saya rasa juga artis memiliki kelebihan, apalagi untuk yang biasa main peran. Mereka ini menurut saya tergolong lumayan cerdas lah… mudah menghafal contohnya. Walaupun politisi itu kompetensinya jauh dari sekedar mudah menghafal, namun setidaknya ia mudah uuntuk mempelajari sesuatu yang baru, berarti dia punya daya kreasi dan inisiatif tinggi untuk terobosan-terobosan baru. Jadi jangan mengembangkan buruk sangka, yang jelas kita lihat saja dulu kinerja politisi kita yang berasal dari kalangan artis…..